Manajemen Investasi Wakaf Uang Secara Produktif

Web Hosting
Pada dasarnya kedudukan #wakaf sangat penting dalam Islam. Akan tetapi jika disejajarkan dengan instrumen filantropi lain dalam Islam masyarakat Indonesia lebih mengenal dan lebih familiar dengan zakat, infaq dan shadaqah (ZIS), dari pada dengan #wakaf. Padahal pada dasarnya #wakaf juga tidak kalah strategis untuk pemberdayaan masyarakat pembagunan ekonomi bangsa, dan kesejahteraan sosial.[1]

Secara strategis terlihat, misalkan jika dibandingkan zakat, salah satu ciri pembeda adalah tugas pengelola. Amil zakat memiliki kewajiban untuk mendistribusikan “seluruh” harta zakat yang terkumpul kepada 8 ashnaf. Sedangkan pengelola #wakaf (nazhir) harus menjaga harta #wakaf agar tetap “utuh” dan mengelolanya dapat didistribusikan kepada masyarakat adalah manfaat atau hasil pengelolaan dari harta yang di#wakafkan.[2]

Kedua, jumlah tanah strategis dan kontroversi pengalihan tanah. Jika ditilik jumlahtanah #wakaf, memang sangatlah luas. Tapi tak semuanya bisa dikategorikan tanahstrategis. Hal ini bisa dicermati dari lokasi dan kondisi tanah. Kalaulokasinya dipedesaan dan tanahnya kurang subur, secara otomatif, susah untukdiproduktifkan.  Karena itu, jalan keluarnya adalah pengalihan tanah atau tukar guling (ruislag) untuk tujuan proaduktif. Dan kenyataannya,langkah ini menjadi langkah yang kontroversi. Seharusnya ini tidak lagi dilakukan, sebab mekanismenya sudah dijelaskan dalam pasal 40 dan 41 UU No. 41 tahun 2004 dan PP No. 42 tahun 2006 pasal 49-51.

Ketiga,tanah #wakaf yang belum bersertifikat. Ini lebih dikarenakan tradisi kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Secara agama, #wakaf cukup dengan membaca shighat #wakaf sepereti waqafftu(saya telah me#wakafkan) atau kakat-kata sepadan yang dibarengi dengan niat #wakaf secara tegas. Dengan demikian, #wakaf dinyatakan sah. Jadi, tidak perlu ada administrasi yang dianggap ruwet oleh masyarakat. Akibatnya, tanah #wakaf yang tidak bersertifikat itu tidak bisa dikelola secara produktif karena tidak ada legalitas, bahkan rawan konflik.

Keempat,nazhir (pengelola) masiih tradisional dan cenderung konsumtif. Meski tidak termasuk rukun #wakaf, para ahli fikih mengharuskan wakifuntuk menunjuk nazhir #wakaf. Nazhirlah yang bertugas untuk mengelola harta #wakaf. Akan tetapi, sayangnya para nazhir #wakaf di Indonesia kebanyakan masih jauh dari harapan. Pemahaman ini masih terbilang tradisional dan cenderung bersifat konsumtif (non-produktif). Maka tidak diherankan lagi, jika pemanfaatan tanah #wakaf kebanyakan digunakan untuk pembangunan masjid an sich.Padahal, masjid sebenarnya juga bisa diproduktifkan dan menghasilkan ekonomi dengan mendirikan lembaga-lembaga perekonomian Islam di dalamnya, seperti BMT, lembaga zakat, #wakaf, mini market, dan sebagainya.

#wakafuang dalam tataran praktis memang lebih mudah dibandingkan #wakaf tanah. Pertama, untuk mendapatkan #wakaf uang bisa dilakukan siapa saja, tanpa harus menunggu jadi tuan tanah yang kaya. Kedua, jaringan atau konter #wakaf uang sangat luas. Kerena bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja untuk menyetorkannya. Berdasarkan UU No. 41/2004, #wakaf uang disetorkan melalui lembaga keuangan syari’ah (LKS). Saat ini menteri agama telah menunjukkan 5 LKS sebagai penerima #wakaf uang, yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, BNI Syari’ah DKI Syari’ah, dan Bank Mega Syari’ah Indonesia.

Keuntungan ketiga,harta yang di#wakafkan tidak akan berkurang sedikitpun. Sebab, dana yang di#wakafkan, akan berkembang melalui investasi yang dijamin aman, dengan pengelola secara amanah, bertanggungjawab, profesional dan transparan. Selain itu, ciri utama #wakaf yaitu nilainya tidak boleh berkurang, harus dijaga agar tetap utuh, bahkan nazhir berkewajiban untuk memproduksikannya. #wakaf uang ini didukung secara administratif oleh instrumen yang dinamakan Sertifikat #wakaf Uang (SWU). Ini merupakan inovasi baru dalam perbankan syari’ah di Indonesia. Di antara manfaat dari instrumen SWU antara lain strategis utnuk tujuan produktif dan bernilai ekonomis. Ini bisa dilakukan dengan cara menjual SWU untuk penggalangan dana proyek.

Kedua,investasi strategis untuk menghapus kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan SWU, seorang wakif telah memberikan kontribusi tidak hanya bagi pengembangan operasionalisasi sosial capital market,tapi juga di bidang investasi sosial permanen. Sebab, doposit #wakaf uang hanya dilakukan sekali saja, maka nazhir atau bank dapat mengivestasikannya dalam berbagai bentuk investasi, baik jangka panjang, menengah, maupun pendek. Berbagai kegiatan investasi inilah yang nantinya akan menciptakan lahan kerja baru, dan berpeluang untuk memberikan kontribusi bagi penguatan ekonomi bangsa.[3]

[3] Ibid.hlm. 266.
[2] Ibid.
[1] ....., Manajemen Investasi Syariah #wakaf Sebagai Instrumen Investasi Publik, (...,..:...), hlm. 262

sumber: http://www.kompasiana.com/zuhro28/manajemen-investasi-wakaf-uang-secara-produktif_57469716e222bdd5055b0a4c

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Manajemen Investasi Wakaf Uang Secara Produktif"

Post a Comment