Hasil Wakaf Produktif Jamaah Haji Aceh Terima Uang Wakaf 1.200 Riyal

Web Hosting
Beliau bernama Habib Abdurrahman Al-Habsyi atau Habib Bugak Asyi. Dua ratus tahun yang lalu dalam hitungan kalender Islam tepatnya pada tanggal 18 Rabiul Akhir 1222 Hijriah (1850 Masehi), dia mendatangi Hakim Mahkamah Kota Mekkah untuk menyampaikan niatnya mewakafkan sebidang tanah dengan rumah dua lantai. Kini tanah itu sudah menjadi bagian dari pintu Bab Al-Fath di Masjidil Haram. Dan sebagai gantinya, telah berdiri Hotel 25 dan 30 lantai di daerah Ajyad, sekitar 500 meter dari Masjidil Haram. Masya Allah.

Sesuai bunyi akad wakaf yang tertulis, Habib Bugak Asyi menginginkan agar rumah tersebut dijadikan tempat tinggal jamaah haji asal Aceh selama di Mekkah dan tempat tinggal orang asal Aceh yang menetap di Mekkah. Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Mekkah untuk naik haji maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal para pelajar (santri atau mahasiswa) Jawi (nusantara) yang belajar di Mekkah. Sekiranya karena sesuatu sebab pelajar dari Nusantara pun tidak ada lagi yang belajar ke Mekkah maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal pelajar Mekkah yang belajar di Masjid Haram. Sekiranya mereka ini pun tidak ada juga maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram untuk membiayai kebutuhan Masjidil Haram.

Tahun 2015 ini, sudah yang ke 13 kalinya jamaah haji asal Aceh menerima uang kompensasi sebesar 1200 Riyal atau setara 4,6 juta rupiah.

"1200 Riyal ini manfaatkan sebaik-baiknya ya,” kata Gubernur Aceh, saat pembagian dana jamaah kloter 8 di penginapan 602, Mekkah, Sabtu (19/09) didampingi oleh Dr. Abdul Latif Balthu perwakilan Nadzir tanah wakaf Habib Bugak, seperti dilansir laman Kementrian Agama.

Siapakah Habib Bugak Asyi yang telah memberi keberkahan bagi ribuan jamaah haji Aceh? Menurut beberapa hasil penelitian, nama asli beliau adalah Habib Abdurrahman, berasal dari daerah Bugak di Peusangan, Matang Glumpangdua, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Dia hidup pada masa kerajaan Islam Aceh Darussalam.

Orang-orang Aceh yang tinggal di Mekkah biasa dipanggil dengan menambahkan gelar Asyi, seperti Syeikh Muhammad Asyi dan Abdul Hamid Asyi. Terdapat sebuah makam di Desa Pantee Sidom, Bugak, Jangka, Bireuen, yang diduga kuat sebagai makam Bugak Asyi.

Lalu kenapa beliau yang sudah wafat ratusan tahun lalu bisa memiliki Hotel dengan nilai aset mencapai 5,5 trilyun Rupiah dan harta yang dikembalikan kepada ribuan jamaah Aceh?

Pada masa Arab Saudi dipimpin oleh Raja Malik Al Saud, rencana proyek perluasan Masjidil Haram telah mengenai tanah wakaf milik Habib Bugak. Nadzir tanah wakaf memanfaatkan uang pengganti dengan membeli tanah di kawasan Ajyad. Seorang pengusaha asal Malaysia bersedia mendirikan bangunan di tanah itu dengan kesepakatan bagi hasil.

Sesuai akad wakaf, bangunan yang berkapasitas hingga 7000 pengunjung itu sedianya harus ditempati oleh seluruh jamaah haji asal Aceh. Namun berhubung masalah regulasi, jamaah haji Aceh harus ditempatkan di kawasan lain dan kepada pemerintah Aceh diberikan uang pengganti setiap tahunnya sebesar 25 Milyar Rupiah melalui Nadzir tanah wakaf.

Masya Allah, inilah amalan yang tak terputus. Bahkan hingga ratusan dan ribuan tahun ke depan. Benarlah apa yang pernah dipesankan oleh Nabi Muhammad SAW.

"Jika mati anak Adam maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara. Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya"

Apakah yang sudah anda siapkan sebagai amalan yang tidak terputus?

sumber: http://www.bersamaislam.com/2015/09/amalan-tak-terputus-wakaf-tanah-200_26.html

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hasil Wakaf Produktif Jamaah Haji Aceh Terima Uang Wakaf 1.200 Riyal"

Post a Comment