Bank Wakaf Perlu Mitigasi Risiko

Web Hosting
Badan Wakaf Indonesia (BWI) tengah mengkaji pendirian bank wakaf nasional. Bank wakaf tersebut dinilai perlu mempertimbangkan mitigasi risiko untuk membiayai usaha mikro di Tanah Air.

Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia Mustafa Edwin Nasution membenarkan BWI sedang mengkaji pendirian bank wakaf di Indonesia yang modalnya dari wakaf uang. Bank tersebut akan menerapkan sistem bagi hasil, namun tidak menetapkan patokan.

"Bank wakaf hanya pastikan uang kembali. Kalau ada untung, alhamdulillah," kata Mustafa di Jakarta, belum lama ini.

Bank tersebut, kata Mustafa, tidak mencari untung dan tidak menggunakan agunan. Sehingga, pengawasan potensi tidak amanahnya penerima pembiayaan perlu dijaga.

"Jika cara konvensional ada agunan sebagai jaminan pembiayaan, bank wakaf menggunakan pendekatan berbeda lewat nilai-nilai agama," ujarnya.

Pendirian bank wakaf tersebut, menurutnya, telah mendapat dukungan lisan dari regulator. Namun, Mustafa meminta dukungan tersebut diwujudkan dalam aksi nyata.

Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB Irfan Syauqi Beik mengatakan, saat menggunakan dana zakat dan wakaf untuk pembiayaan usaha, risiko moral hazard selalu ada. Penggantian pembiayaan bermasalah bisa diganti dana zakat. Namun, penggunaan zakat untuk pembiayaan bermasalah tidak boleh dijadikan jalan pintas karena dinilai kurang menggali sisi syariah.

"Sebelum dipakai sebagai pengganti pembiayaan bermasalah, perlu diperhatikan dulu apakah penerima pembiayaan termasuk mustahik atau bukan," ungkapnya.

Dengan kondisi itu, Indonesia dinilai perlu memiliki standar yang membuat zakat bisa digunakan secara efektif dan efisien, namun tidak melanggar prinsip syariah.

Pendirian bank wakaf tersebut merupakan amanat dari kesepakatan dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OIC).

Dalam kuliah umumnya di forum Dewan Pengawas Jasa Keuangan Islam (IFSB), peneliti keuangan Islam dan akademisi University of New Orleans AS, M Kabir Hassan, mengatakan, kewajiban anggota OIC memiliki bank wakaf ditetapkan pada konferensi pada 2013. Sumber dana dari wakaf tersebut akan digunakan untuk membiayai usaha mikro.

Menurutnya, dana wakaf yang terkumpul di Indonesia bisa sangat besar mengingat besarnya jumlah penduduk Muslim. Selain untuk kebutuhan nasional, dana tersebut juga bisa digunakan untuk membantu negara lain yang membutuhkan.

Hasan menekankan, struktur organisasi pengelola bank wakaf harus transparan dan akuntabel. Bank wakaf ini juga harus bisa memitigasi potensi kegagalan usaha mikro yang dibiayai. Hasan menyebut, di AS sembilan dari 10 usaha pasti mengalami kegagalan.

"Tujuan bagus dan ide bank wakaf bagus, tapi harus dipikirkan risikonya, high risk high return," kata Hassan.

Menurutnya, pemberi wakaf menginginkan wakaf tersebut berdaya guna. Sehingga, skema pembiayaan usaha mikro harus dipastikan bisa berkelanjutan. N ed: nur aini

sumber: http://www.republika.co.id/berita/koran/syariah-koran/15/04/10/nmkwsm15-bank-wakaf-perlu-mitigasi-risiko

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bank Wakaf Perlu Mitigasi Risiko"

Post a Comment