Peraturan BWI No 4 tahun 2010 Tentang Pedoman Pengelolaan Dan Pengembangan Harta Benda Wakaf

Web Hosting
PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2010
TENTANG
PEDOMAN PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN 
HARTA BENDA WAKAF 

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BADAN WAKAF INDONESIA,

Menimbang  :  bahwa  untuk  melaksanakan  pengelolaan  dan  pengembangan  harta  benda
wakaf  sesuai  ketentuan  Pasal  48  Peraturan  Pemerintah  Nomor  42  Tahun
2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang
Wakaf  perlu  menetapkan  Peraturan  Badan  Wakaf  Indonesia  tentang
Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Harta Benda Wakaf.
 
Mengingat  :  1.  Undang-Undang  Nomor  41  Tahun  2004  tentang  Wakaf  (Lembaran
Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2004  Nomor  159;  Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4459);
2.  Peraturan  Pemerintah  Nomor  42  Tahun  2006  tentang  Pelaksanaan
Undang-Undang  Nomor  41  Tahun  2004  tentang  Wakaf  (Lembaran
Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2006  Nomor  105;  Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4667);
3.  Peraturan  Menteri  Agama  Republik  Indonesia  Nomor  4  Tahun  2009
tentang Administrasi Pendaftaran Wakaf Uang. 
                                              
 MEMUTUSKAN


Menetapkan  :  PERATURAN  BADAN  WAKAF  INDONESIA  TENTANG
PEDOMAN  PENGELOLAAN  DAN  PENGEMBANGAN  HARTA
BENDA WAKAF 


BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Badan Wakaf Indonesia ini yang dimaksud dengan :
1.  Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta
benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan
kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.
2.  Ikrar  Wakaf  adalah  pernyataan  kehendak wakif  yang  diucapkan  secara  lisan  dan/atau  tulisan
kepada Nazhir untuk mewakafkan harta benda miliknya. 
3.  Nazhir  adalah  pihak  yang  menerima  harta  benda  wakaf  dari  wakif  untuk  dikelola  dan
dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.
4.  Harta Benda Wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka
panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh wakif.
5.  Pengelolaan  dan  Pengembangan  Harta  Benda  Wakaf  adalah proses  memproduktifkan  harta
benda  wakaf  baik  dilakukan  oleh  Nazhir  sendiri  atau  bekerja  sama  dengan  pihak  lain  untuk
mencapai tujuan wakaf. 
6.  Badan  Wakaf  Indonesia,  yang  selanjutnya  disingkat  BWI,  adalah  lembaga  independen  dalam
pelaksanaan tugasnya untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia. 
7.  Lembaga  Keuangan  Syariah,  yang  selanjutnya  disingkat  LKS, adalah  badan  hukum  Indonesia
yang bergerak di bidang keuangan syariah.
8.  LKS-PWU adalah LKS yang secara resmi ditetapkan oleh Menteri sebagai Lembaga Keuangan
Syariah Penerima Wakaf Uang.
9.  Bank  Syariah  adalah  Bank  Umum  Syariah  dan  Unit  Usaha  Syariah  dari  Bank  Umum
Konvensional serta Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

BAB II
PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN HARTA BENDA WAKAF
Pasal 2
(1) Nazhir  wajib mengelola  dan  mengembangkan  harta  benda  wakaf  sesuai  dengan  tujuan,  fungsi
dan peruntukannya.
(2) Dalam mengelola harta benda wakaf Nazhir dapat bekerja sama dengan pihak lain.
(3) Dalam  mengelola  dan  mengembangkan  harta  benda  wakaf,  Nazhir  mendapatkan imbalan  dari
hasil  bersih  atas pengelolaan  dan  pengembangan  harta  benda  wakaf  yang  besarnya  tidak
melebihi 10% (sepuluh perseratus).
(4) Ketentuan lebih lanjut tentang remunerasi Nazhir akan diatur dalam peraturan BWI tersendiri.

 
Pasal 3
(1) Pengelolaan  dan pengembangan  harta  benda  wakaf  oleh  Nazhir  sebagaimana  dimaksud  dalam
Pasal 2 ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan.
(2) Pengelolaan  dan pengembangan  harta  benda  wakaf  sebagaimana  dimaksud pada  ayat  (1)
dilakukan secara produktif.
(3)  Dalam  hal pengelolaan dan pengembangan  harta  benda  wakaf  yang  dimaksud  pada  ayat  (1)
diperlukan penjamin, maka digunakan lembaga penjamin syariah.

Pasal 4
(1) Dalam  mengelola  dan mengembangkan  harta  benda  wakaf,  Nazhir  dilarang  melakukan
perubahan peruntukan harta benda wakaf kecuali atas dasar izin tertulis dari BWI.
(2) Izin  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) hanya  dapat  diberikan  apabila  harta  benda  wakaf
ternyata  tidak  dapat  dipergunakan  sesuai  dengan  peruntukan  yang  dinyatakan  dalam ikrar
wakaf.
Pasal 5
(1) BWI  berhak  melakukan  pemberhentian  dan  penggantian  Nazhir  apabila  Nazhir  tidak
melaksanakan  tugasnya  dan/atau  melanggar  ketentuan  larangan  dalam  pengelolaan  dan
pengembangan harta benda wakaf sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pemberhentian  dan  penggantian  Nazhir  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dilakukan  oleh
BWI setelah terlebih dahulu diadakan audit komprehensif oleh pihak independen yang ditunjuk
BWI.
(3) Sebelum  BWI  mengeluarkan  keputusan  pemberhentian  dan  penggantian Nazhir,  Nazhir  diberi
hak untuk membela diri baik lisan maupun tertulis, langsung atau tidak langsung.
(4) Apabila  Nazhir  tidak  terbukti  melakukan  kesalahan,  BWI  mengembalikan  haknya  sebagai
Nazhir.
(5) Pengelolaan  dan  pengembangan  harta  benda  wakaf  yang  dilakukan  oleh  Nazhir  lain  karena
pemberhentian  dan  penggantian  Nazhir,  dilakukan  dengan  tetap  memperhatikan  peruntukan
harta benda wakaf yang ditetapkan dan tujuan serta fungsi wakaf.

Pasal 6
BWI melakukan pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf dari perorangan warga negara
asing, organisasi dan badan hukum asing yang berskala nasional atau internasional, dan harta benda
wakaf terlantar.

BAB III
PENGELOLAN DAN PENGEMBANGAN WAKAF UANG
Pasal 7
(1) Pengelolaan  dan  pengembangan  wakaf  uang  hanya  dapat  dilakukan  melalui  investasi  pada
produk-produk LKS dan/atau instrumen keuangan syariah.

(2) Dalam hal  LKS-PWU menerima wakaf uang untuk jangka waktu tertentu, Nazhir hanya dapat
melakukan pengelolaan dan pengembangan di LKS-PWU dimaksud.
(3) Pengelolaan dan pengembangan wakaf uang pada bank syariah yang telah dijamin oleh lembaga
penjamin simpanan.
(4) Pengelolaan  dan  pengembangan  wakaf  uang  dapat  dilakukan  dalam  bentuk  investasi  di  luar
produk-produk LKS atas persetujuan dari BWI.
(5) Persetujuan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (4)  diberikan  setelah  terlebih  dahulu  BWI
melakukan kajian atas kelayakan investasi dimaksud. 
(6) Pengelolaan  dan  pengembangan  wakaf  uang  dalam  bentuk  investasi selain  pada bank  syariah
harus diasuransikan pada asuransi syariah.
(7) Sebaran  investasi  harta  dalam  bentuk  wakaf  uang  (portofolio  wakaf  uang)  dapat  dilakukan
dengan  ketentuan  60  %  (enam  puluh  perseratus)  investasi  dalam  instrumen  LKS  dan  40  %
(empat puluh perseratus) di luar LKS.

BAB IV
PENYALURAN MANFAAT HASIL PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN 
HARTA BENDA WAKAF
Bagian Pertama
Umum
Pasal 8
(1) Penyaluran  manfaat  hasil  pengelolaan  dan  pengembangan  harta  benda  wakaf harus  sesuai
dengan peruntukannya.
(2) Penyaluran manfaat  hasil  pengelolaan  dan  pengembangan  harta  benda  wakaf  dapat  dilakukan
secara langsung dan tidak langsung.
(3) Penyaluran  manfaat  hasil pengelolaan  dan  pengembangan  harta  benda  wakaf secara  langsung
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah program pembinaan dan pemberdayaan masyarakat
yang secara langsung  dikelola oleh Nazhir.
(4) Penyaluran  manfaat  hasil pengelolaan  dan  pengembangan  harta  benda  wakaf secara  tidak
langsung  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (2)  adalah  program  pembinaan  dan  pemberdayaan
masyarakat  melalui  kemitraan  dengan  lembaga  pemberdayaan  lain  yang  memenuhi  kriteria
kelayakan kelembagaan dan profesional. 

Bagian Kedua
Penyaluran Manfaat Hasil Pengelolaan dan Pengembangan 
Harta Benda Wakaf Secara Langsung
Pasal 9
(1) Penyaluran  manfaat  hasil pengelolaan  dan  pengembangan  harta  benda  wakaf secara  langsung
sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 ayat (2) dapat dilakukan apabila memenuhi persyaratan:
a. program  pembinaan  dan  pemberdayaan  masyarakat  dijalankan  sesuai  dengan  syariah dan
peraturan perundang-undangan; 

b. tepat sasaran;
c. berdampak pada pengurangan kemiskinan dan membuka lapangan pekerjaan;
d. program berkesinambungan dan mendorong kemandirian masyarakat.
(2) Program pembinaan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a antara lain:
1. program  sosial  dan  umum  berupa  pembangunan  fasilitas  umum  antara  lain jembatan, jalan
mandi cuci kakus umum dan masjid;
2. program  pendidikan  berupa  pendirian sekolah dengan  biaya  murah  untuk  masyarakat  tidak
mampu dan pelatihan keterampilan;
3. program  kesehatan  berupa  bantuan  pengobatan bagi  masyarakat  miskin  dan  penyuluhan  ibu
hamil dan menyusui; 
4. program  ekonomi  berupa  pembinaan  dan  bantuan  modal  usaha  mikro,  penataan  pasar
tradisional dan pengembangan usaha pertanian dalam arti luas;
5. program dakwah berupa penyediaan da’i dan  mubaligh,  bantuan  guru,  bantuan  bagi  imam
dan marbot masjid. 

Bagian Ketiga
Penyaluran Manfaat Hasil Pengelolaan dan Pengembangan 
Harta Benda Wakaf Secara Tidak Langsung
Pasal 10
(1) Penyaluran  manfaat  hasil pengelolaan  dan  pengembangan  Harta  Benda  Wakaf secara  tidak
langsung dapat dilakukan melalui lembaga:
a.  lembaga pengelola zakat;
b.  baitul mal wa tamwil
c.  lembaga kemanusiaan nasional;
d.  lembaga pemberdayaan masyarakat nasional;
e.  yayasan/perkumpulan/organisasi kemasyarakatan;
f.  lembaga  lain  baik  berskala nasional  maupun  internasional  yang  melaksanakan  program
pembinaan dan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan syariah dan peraturan perundang-undangan.
(2) Lembaga-lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a. Memiliki  kelengkapan  legal  formal  lembaga/yayasan/perkumpulan/organisasi
kemasyarakatan sesuai peraturan perundang-undangan;
b. paling kurang telah beroperasi selama 2 (dua) tahun;
c. memiliki pengurus yang tidak tercela;
d. menyertakan laporan audit independen dalam 2 (dua) tahun terakhir; 
e. memiliki program yang jelas dan memberikan dampak positif.


BAB V
PENUTUP

Pasal 11
Peraturan  ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar  setiap  orang  mengetahuinya  memerintahkan  pengundangan  Peraturan  ini  dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
  
                Ditetapkan di Jakarta
                Pada tanggal 6 Juli 2010

KETUA BADAN WAKAF INDONESIA,

    
     THOLHAH HASAN 

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal       2010

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

PATRIALIS AKBAR
BERITA NEGARA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Peraturan BWI No 4 tahun 2010 Tentang Pedoman Pengelolaan Dan Pengembangan Harta Benda Wakaf"

Post a Comment