Selama Sepekan Wakaf Al Azhar Lakukan Roadshow Ke 4 Kota

Web Hosting
Denpasar-Bali (Wakaf Al-Azhar) - Dalam rangka mensosialisasikan Gerakan Indonesia Berwakaf, Tim Wakaf Al Azhar (terdiri dari enam orang), sejak Senin lalu (29 Oktober-4 November 2013), melakukan perjalanan Roadhow ke empat kota, mulai dari Denpasar–Bali, Surabaya, Solo, hingga Purwokerto. Roadshow Wakaf Al Azhar itu diliput oleh perwakilan dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Di Bali, Direktur Eksekutif Wakaf Al Azhar, Muhammad Rofiq Thayyib Lubis, memenuhi undangan Kanwil Kemenag Bali untuk menjadi narasumber kegiatan “Halaqah Wakaf Produktif 2013”. Acara yang  berlangsung di Hotel Aston, Denpasar, Bali, Selasa (29/10) tersebut dihadiri oleh para nadzir wakaf se-Provinsi Bali. Juga hadir Ketua MUI Denpasar-Bali dan Ketua Umum DMI Bali. Acara dibuka oleh Muhammad Choirun, S.Sos (Kasi Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag Bali).

Dalam Halaqah Wakaf Produktif, ada beberapa materi yang disampaikan narasumber, diantaranya: Upaya Meningkatkan Kinerja Organisasi Nadzir Wakaf (disampaikan oleh Ketua DMI Provinsi Bali H. Bambang Santoso, S.Pd),  Strategi Marketing dan Program Wakaf Produktif (Muhammad Rofiq Thayyib Lubis), sertaKebijakan Kementerian Agama Provinsi Bali tentang Pemberdayaan Wakaf.  

Para utusan nadzir wakaf Bali itu juga mempresentasikan wakaf produktif di seluruh wilayahnya masing-masing. Halaqah ini menghasilkan kesepakatan untuk membangun jaringan dan bersinergis dalam mengaplikasikan wakaf produktif, sehingga tidak terbiarkan begitu saja. “Potensi wakaf produktif itu luar biasa, manfaatnya bisa dirasakan banyak orang,” kata Kasi Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag Bali Muhammad Choirun, S.Sos.

Sementara itu, dikatakan H. Bambang Santoso (Ketua DMI Bali), Bali harus menjadi pilot project, mengingat potensi Bali sangat luar biasa. “Bali, selain menjadi destinasi (tempat tujuan) parawisata dunia, juga berpotensi terbesar sebagai jendela Islam untuk dunia,” kata H. Bambang yang juga merupakan tokoh perubahan di Bali.

Bambang menyerukan agar umat Islam Indonesia segera bangkit. Terlebih, Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Ibarat macan yang sedang tidur, umat yang terpuruk ini harus dibangkitkan. “Itulah sebabnya, kenapa Snouck Hurgronje, begitu cemas jika umat Islam Indonesia memasuki wilayah ekonomi dan politik. Jika sudah memasuki wilayah itu, jangan heran jika umat Islam dijegal dan dihadang.”

Bambang memberi contoh, kenapa kehancuran itu terjadi di masa Khalifah Ottoman Turki, bahkan berpecah menjadi 23 negara. Itu akibat, istana yang dibangun megah berasal dari hutang, sementara kondisi rakyatnya tidak diperhatikan. “Ketika pemimpin Islam haus kekuasaan, itulah awal sebuah kehancuran.”

Ketua DMI itu menyayangkan, jika raksasa ekonomi justru dikuasai oleh Asing, termasuk Cina. Ia juga mengingatkan bahaya naturalisasi. Ketika wakaf tidak berperan, maka kita menjadi bangsa yang tidak berdaya sama sekali. Di Malaysia dan Singapur saja berhasil membangun proyek mewah dan infratruktur dari hasil wakaf. Sementara Wakaf di Indonesia belum dikelola secara profesional dan modern.

“Jika kita tidak berjamaah dan tak membangun relasi, kita akan kalah. Seyogianya kita punya jaringan yang luas dan bersinergi. Jika kita bersatu, diharapkan dapat menyatukan potensi yang ada untuk saling melengkapi dan menguatkan. Bicara wakaf produktif, hendaknya pula tidak hanya sekedar wacana. Tapi harus ada yang menjadi pelakunya.”

Bambang memberi contoh, tentang betapa kuatnya jaringan Indomart dan Alfamart di seluruh Indonesia. Ternyata uang recehan Rp. 200 yang tidak diambil konsumen, jika dikumpulkan dari seluruh jaringan yang ada, jumlahnya bisa mencapai milyaran. Uang recehan yang terkumpul itu lalu disumbangkan untuk Wakaf  Gereja.

“Nah, umat Islam Indonesia hendaknya memulai dari hal yang terkecil. Idealnya lagi, jika terpola dan memiliki system yang kuat. Sesungguhnya potensi wakaf uang itu bisa mencapai Rp. 3 triliun. Sahabat Nabi kaya, bukan karena hartanya, tapi karena senang memberi. Karenanya, para pemimpin harus memberi contoh teladan. Terpenting, kejujuran menjadi modal utama bagi para nadzir yang telah diberi amanah. Sangat disayangkan, jika para nadzir tidak focus dan belum profesional, bekerja di wakaf hanya sampingan saja.”[Adhes Satria]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Selama Sepekan Wakaf Al Azhar Lakukan Roadshow Ke 4 Kota"

Post a Comment