Menebus Indonesia yang Tergadai, Wakaf Al Azhar Bisa!

Web Hosting
DENPASAR (GD) – Indonesia itu seperti wanita cantik. Hanya orang bodoh saja yang tidak tertarik dengan kemolekan negeri ini. Yang paling bodoh lagi adalah ketika anak-anak bangsa membiarkan negeri ini diambil sumber kekayaan alamnya oleh bangsa lain.

“Ironis. Ternyata, perkebunan kita di Kalimantan, 60% dikuasai negeri jiran.  Siapa sangka, dana haji telah mereka investasikan untuk perkebunan seluas 80 ribu hektar.” Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Wakaf Al Azhar, Muhammad Rofiq Thayyib Lubis, dalam “Halaqah Wakaf Produktif 2013” di Hotel Aston, Denpasar, Bali, (29/10).

Dalam presentasinya, M. Rofiq  menyampaikan makalahnya yang berjudul “Strategi Marketing & Program Wakaf Produktif, Bersama Kita Bisa Menebus Indonesia yang Tergadai". Ia mengatakan, Indonesia harus bangkit dan menjaga izzah (kemuliaannya). Karena itu, Gerakan Indonesia Berwakaf harus menjadi solusi. “Perjuangan ini masih sangat panjang, namun jangan pernah lelah untuk terus berjuang.,” begitu ia mengutip pesan Buya Hamka.

Trend Wakaf
Bicara tentang wakaf, ternyata tak sepopuler zakat dan sedekah yang selama ini digaungkan oleh Ustadz Yusuf Mansur. Wakaf, di kalangan anak muda, ternyata belum menjadi trend yang hangat diperbincangkan.

Untuk mengetahui sejauhmana orang muda memperbincangkan wakaf, Google Analitic membeberkannya berdasarkan sumber dari media sosial (Twitter, Facebook, Media Online, Google, Youtube). Ada beberapa wilayah yang disurvei (tertanggal 26 Oktober 2013) dan dianalisa, yakni: Aceh, Medan, Jambi, Palembang, Bengkulu, Padang, Lampung, Banten, Jawa-Barat, Jawa Tengah, Jawa-Timur, DKI Jakarta, dan Bali.

Dijelaskan Direktur Eksekutif Wakaf Al Azhar, ternyata  di  Aceh, Wakaf tidak pernah diperbincangkan kalangan anak muda sama sekali. 100 % mereka hanya bicara soal sedekah. Ini menunjukkan sosialisasi sedekah yang digaungkan oleh Ustadz Yusuf Mansur bisa dikatakan berhasil.

Di Sumatra Utara, masih ada anak muda yang bicara wakaf (33.33%), dan sedekah (66,67%). Di Jambi, zakat (31,25%), wakaf (25,00%), infaq (6,25%), sedekah (37,50%). Di Sumatera Selatan, zakat (26,71%), wakaf (26,36%), infaq (20,4%), sedekah (26,45%). Di Bengkulu, zakat (6,67%), infaq (13,33%), sedekah (80,00). Kemudian di Sumatera Barat,  zakat (33,33%), wakaf (8,33%), sedekah (58,33%). Lalu di Lampung, zakat (38,89%), sedekah (22,22%), dan infaq (38,89%).

Selanjutnya di Banten, anak muda yang bicara zakat (50%), infaq (33,33%), sedekah (16,67%). Di Jawa Barat, zakat (49,21%), infaq (9,46%), sedekah (33,12%), wakaf (8,20%). Di Jawa Tengah, zakat (15%), wakaf (16,67%), infaq (5%), sedekah (63,33%). Di Jawa Timur, zakat (29.41%), wakaf (11,76%), infaq (7,84%), sedekah (50,98%).

Bagaimana di Jakarta? Anak muda yang bicara zakat (24,21%), wakaf (19,92%), infaq (21,82%), sedekah (34,05%). Sedangkan di Bali, zakat (11,76%), infaq (11,76%), sedekah (76,47%).

Jika disimpulkan, Aceh, Bengkulu, Lampung, Banten adalah wilayah dimana anak mudanya tidak pernah bicara soal wakaf. Hanya Palembang (Sumatera Selatan), disusul Jambi, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur,  Sumatra Barat, dan Jawa Barat yang memperbincangkan wakaf.

“Harus diakui, selama ini kebanyakan masyarakat hanya tahu soal wakaf tanah untuk kuburan, sekolah dan masjid, sedangkan wakaf produktif belum menjadi bahan perbincangan. Itulah sebabnya, kita perlu mensosialisasikan kembali wakaf produktif.  Nah, untuk mempopulerkan wakaf produktif, harus dibuat program yang unik dan menarik,” kata Muhammad Rofiq.

Profil Wakaf Al Azhar
Dalam “Halaqah Wakaf Produktif” yang diadakan Kanwil Kemenag Provinsi Bali, Rofiq menjelaskan produk-produk Wakaf Al Azhar, diantaranya: Wakaf Transportasi, Wakaf Wasiat Polis Asuransi Syariah, Wakaf Perusahaan, Wakaf Property, Wakaf Family, Wakaf Perkebunan Jabon, Wakaf Perkebunan Sawit, Wakaf Tunai, Wakaf Manfaat, Kartu Anggota Wakaf Produktif Al-Azhar (KAWPA).

Selanjutnya, juga dijelaskan profil singkat Wakaf Al Azhar. Wakaf Al Azhar adalah Pengelola Wakaf yang dibentuk oleh Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar untuk mengembangkan serta mengelola Wakaf Produktif untuk mendukung aktifitas pendidikan dan dakwah.

Wakaf Al-Azhar Indonesia lahir dan terinspirasi oleh pengelolaan Wakaf Al-Azhar Kairo di Mesir yang berkembang pesat dengan mengelola Wakaf Produktif  berupa; Rumah Sakit, Apartemen, Hotel, Perkebunan serta berbagai usaha lainnya sehingga dapat memberikan beasiswa kepada 400.000 mahasiswa, memberi insentif yang memadai kepada 11.000 dosen dan mampu mengembangkan dakwah serta mengirimkan banyak ulama ke mancanegara.

“Maka dengan dukungan semua pihak, Wakaf Al Azhar berikhtiar mengembangkan Wakaf Produktif sebagai wujud pemberdayaan ekonomi ummat untuk masa depan Pendidikan dan Dakwah,” tandasnya Rofiq.

Lebih lanjut, Direktur Eksekutif Wakaf Al Azhar menjelaskan tentang kondisi perwakafan saat ini, dimana masih dominan wakaf keagama’an, dan wakaf produktif lebih banyak dilakukan pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Belum meliputi program kebangkitan umat. Penyaluran wakaf bahkan lebih cendrung kepada ketokohan di masyarakat.

Sesungguhnya ada kekuatan (Strength) untuk terus mensosialiasikan Gerakan Indonesia Berwakaf, terlebih saat ini banyak lembaga sosial keagama’an (mulai dari majelis taklim, takmir masjid dan lembaga zakat dan sebagainya). Ditambah lagi, adanya landasan untuk bergerak, yakni petunjuk yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist. Kemudian, tingginya kesadaran masyarakat untuk menyumbangkan sebagian harta yang dimilikinya. Hanya saja belum menemukan lembaga yang tepat dan amanah untuk menerima harta yang disisihkan. Begitu juga, banyak para da’i yang menguasai istilah perwakafan. Disamping memiliki jaringan kekuatan bisnis Advisor dari kalangan Profesional.

Meski memiliki kekuatan, tetap ada kelemahan (weaknesses) yang dimiliki, antara lain: Dana Wakaf tidak bisa dijadikan biaya operasional pergerakan wakaf (terima 1 triliun, harus ada subsisi); Pengelolaan wakaf yang belum profesional (masih kerja sampingan); Rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan wakaf; Belum banyak difahami tentang pola wakaf produktif; Kurang menangkap peluang.

Sebetulnya ada peluang (Opportunities) dari gerakan wakaf ini, mengingat, masih banyak lembaga sosial keagama’an yang belum mengerakkan wakaf produktif  (sehingga perlu sinergi); Menjalin hubungan yang erat pada wakif; Mayoritas beragama Islam; Mempersatukan organisasi-organisasi sosial keagamaan; Membangun manajemen Profesional.

Kendala atau Ancaman (Treaths) untuk bisa mewujudkan itu bisa dirasakan, karena: Sulitnya mempersatukan organisasi-organisasi Islam; Setiap lembaga-lembaga sosial dakwah bergerak sendiri-sendiri; Banyak masyarakat yang belum faham tentang wakaf.

“Karena itu, kenapa kita harus berjamaah. Jika kita sudah berjamaah, maka perlu dilakukan bai’at (kesepakatan bersama). Sudah saatnya kita menanggalkan baju kelompok masing-masing untuk bersatu. Jangan merasa hebat dengan program dan lembaganya sendiri,”ujar Rofiq.

Dikatakan Rofiq, “Sudah saatnya kita menjawab tantangan untuk menebus kembali Indonesia yang tergadai, dengan jihad ekonomi. Mewujudkan Indonesia yang beradab dan bermartabat, serta mewujudkan penghimpunan dan Pengelolaan Dana Wakaf Produktif yang Profesional dan Proporsional.

Mengutip perkataaan Ali bin Ali Thalib ra, kebenaran yang tidak dimanaje dengan baik, akan dikalahkan oleh kebatilan yang dimanaje dengan baik. “Idealnya adalah kebenaran yang dimanaje dengan baik akan mengalahkan kebatilan yang dikelola dengan baik.”

Lalu strategi apa yang harus dilakukan? Wakaf Al Azhar berupaya untuk membuat program yang unik dan mudah diterima masyarakat. Selain itu, memiliki management profesional dan menggunakan strategi marketing Bank dan Asuransi. Setelah itu barulah mewujudkan objek Wakaf .

“Ada kompensasi yang diberikan dalam bentuk Bonus bulanan, bonus triwulan, dan bonus tahunan. Wakaf Al Azhar baru bisa memberi bonus tahunan. Adapun perhitungan bisnisnya adala bonus dihitung dari pencapaian target dan operasional wakaf. “Setidaknya ada tiga pencapaian target wakaf, yakni: Target Nazhir, Target Peningkatan, dan Target Dream. Insya Allah Menuju Indonesia Gemilang yang menjadi slogan Wakaf Al Azhar, segera tercapai,” ungkap Rofiq.

M. Rofiq yakin, dengan Quantum Wakaf, dalam 50 tahun ke depan, Indonesia Gemilang akan terwujud. Dengan wakaf, bisa menjadi raksasa ekonomi yang luar biasa. [Adhes Satria]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menebus Indonesia yang Tergadai, Wakaf Al Azhar Bisa!"

Post a Comment