Direktur Wakaf Al Azhar: Membangun Kekuatan Ekonomi Raksasa dengan Wakaf Produktif

Web Hosting
JAKARTA (wakaf  al-Azhar) – Direktur Eksekutif Wakaf Al Azhar, Muhammad Rofiq Thayyib Lubis menegaskan, banyaknya lembaga wakaf yang ada bukanlah hal yang perlu dicemaskan. Wakaf Al Azhar bahkan, tidak menganggapnya sebagai kompetitor, melainkan mitra yang perlu disatukan langkahnya untuk mewujudkan cita-cita bersama, yakni membangun peradaban Islam.

“Kami tidak menganggap sebagai kompetitor. Justru kami ingin mengajak lembaga-lembaga yang ada untuk bersinergis menjadi sebuah kekuatan dalam membangun ekonomi Islam. Itulah sebabnya, wakaf adalah salah satu kekuatan rakyasasa dalam keuangan Islam,” kata Ustadz Rofiq saat diwawancara oleh Islam Pos.com di ruang kerjanya.

Dikatakan Rofiq, Wakaf berbeda dengan zakat, infaq dan sedekah. Adapun zakat fokusnya adalah wujud nilai transaksi dasar ekonomi yang ditujukan bagi fakir miskin, dan mereka yang berhutang. Dengan zakat, harta dan jiwa seseorang dibersihkan dan dilunakkan. Dengan zakat, ekonomi di suatu wilayah, bahkan dunia, akan berputar. Disinilah terjadi pergerakan ekonomi.

“Pengusaha itu seharusnya membutuhkan zakat. Artinya, tanpa keterpaksaan,  pengusaha merasa butuh hartanya dikeluarkan, sehingga roda usaha atau bisnisnya pun berputar.  Dengan zakat, bukan hanya semata sebagai jaring pengaman ekonomi, melainkan juga jaring pengaman sosial. Ini menujukkan sistem keuangan yang dibangun Islam dalam rangka membangun sebuah peradaban sungguh luar biasa,” ungkap Rofiq.

Sedangkan Infaq, adalah nafkah yang dibelanjakan untuk anak-istri, kerabat, handai taulan dan sebagainya. “Jika ada diantara anggota keluarga atau saudara kita yang fakir dan miskin, hendaknya tidak boleh kita hutangi. Begitu juga, dengan adik kita yang sakit, atau yang tak punya biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya. Munafik, jika tidak membantu mereka. Uang dan harta yang kita miliki sudah semestinya dibelanjakan untuk kebutuhan mereka. Inilah yang namanya budjet keuangan akhirat.”

Kemudian, sedekah. Tentu saja, sedekah tidak selalu berbentuk harta atau uang, tapi juga tenaga, bahkan senyum pun sedekah. Mereka yang selalu tersenyum dari hati yang tulus, maka nilainya adalah sedekah yang sangat besar. Bukankah senyum adalah sedekah yang paling mudah?

Selanjutnya, yang menjadi  kekuatan ke-4 adalah Wakaf.  Inilah rakasasa keuangan yang dibangun oleh sistem Islam. Wakaf adalah sedekah jariyah  yang terus mengalir hingga hari kiamat. Boleh dikatakan, wakaf adalah harta abadi. Dengan wakaf produktif, maka manfaatnya, selain bisa dirasakan oleh mereka yang membutuhkan, pahalanya pun akan terus mengalir hingga di alam akhirat.

“Kebaikan yang dimanaje tidak baik akan dikalahkan oleh keburukan yang dimanaje dengan baik. Karena itu kita harus merubahnya. Kebaikan yang dimanaje dengan baik akan mengalahkan keburukan yang dimanaje dengan baik. Karenanya, Wakaf Al Azhar mengelola wakaf produktif dengan manajemen modern yang baik.”

Dengan wakaf, krisis pangan bisa dihindari. Hal itu sudah dibuktikan oleh Rasulullah saat berada di Madinah. Ada lima pilar yang dibangun Nabi Saw untuk membangun sebuah peradaban yang baik, yakni: Membangun kekuatan ekonomi, membangun pasar, membangun persaudaraan, membangun perjanjian, dan memiliki pokok akidah yang kokoh.

“Adapun teknologi hanyalah pendukung peradaban, bukan penentu peradaban. Jika akidahnya bagus, maka peradabannya pun akan bagus pula,” tandas Direktur Wakaf Al Azhar semangat. [adhes satria]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Direktur Wakaf Al Azhar: Membangun Kekuatan Ekonomi Raksasa dengan Wakaf Produktif"

Post a Comment