Cita-cita Tokoh Islam Bali: Insya Allah, Bali Menjadi Jendela Islam Dunia

Web Hosting
DENPASAR (wakaf  al-Azhar) - Ketika Islam masuk ke Bali sejak 500 tahun yang lalu, perkembangan Islam di Pulau Dewata itu boleh dikatakan sungguh menggembirakan. Meski, perizinan untuk membangun rumah ibadah (masjid) di Bali kerap dipersulit, namun keberadaan masjid di Bali secara perlahan kian bertambah.

Diakui Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Bali, H. Bambang Santoso, pasca Bom Bali I dan II, efek peristiwa itu telah berimbas kepada masyarakat muslim di Bali. "Meski demikian kami hadapi dengan sabar. Setiap kebencian tidak pernah kami balas dengan kebencian, melainkan dengan akhlak yang baik. Bukankah Islam agama yang rahmatan lilalamin. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.  Umat Islam di Bali harus memberi teladan, bersikap toleran untuk hidup berdampingan dengan saudara sebangsa yang lain, ” ujar Bambang.

Yang namanya hidup bermasyarakat, akan selalu ada gesekan yang timbul. Namun, tetap harus diselesaikan dengan cara yang lebih bijak. “Ingatlah, ketika Rasulullah Saw membangun membangun peradaban di Madinah. Rasulullah bahkan menegaskan, seorang muslim belum dikatakan beriman jika belum memuliakan tetangganya. Tegasnya, Umat Islam Bali harus membangun peradaban yang lebih beradab,” tukas Bambang.

Boleh jadi, belum banyak yang tahu, ternyata shalat Subuh berjamaah di Masjid Baitul Makmur yang berlokasi di Kepawon, sebuah perkampungan muslim di Bali, jamaahnya bisa sebanyak shalat Jum’at. Selain Masjid Baitul Makmur di Kepawon, Masjid Sudirman di Denpasar juga tak kalah banyaknya.

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Denpasar - Bali, KH. Mustofa al-Amin, saat ini di Bali terdapat 59 kantong muslim, yang merupakan perkampungan muslim. Patut disyukuri, jika perkampungan muslim (dari kota hingga ke desa-desa), telah mendapatkan otonomi sendiri.

“Dari administrasi sampai level adat, kita yang muslim diberi otonomi. Namun demikian, kegiatan keagamaan yang dilakukan tidak bersinggungan dengan masyarakat setempat. Bahkan, bisa menjadi media untuk menjalin komunikasi yang lebih erat dengan masyarakat Bali yang mayoritas Hindu,” ungkapnya.

Dalam level cultural dan formal, hubungan kemasyarakatan kedua umat beragama (Islam-Hindu) terjalin dengan baik. Jika sudah menyangkut wilayah, masing-masing pihak sudah saling memahami. “Biasanya, setiap Idul Fitri, kami yang muslim berbagi hadiah atau bingkisan kepada saudara kami yang beragama Hindu.”

Dikatakan KH. Mustofa, ketika hubungan kemasyarakatan terjalin dengan baik, maka yang muslim tidak dalam posisi ataupun merasa minoritas. Bahkan, masyarakat Muslim Bali ditempatkan sebagai asset pembangunan daerah. Saat Pilkada atau pemilihan kepala desa, misalnya. Ternyata, peran umat Islam sangat signifikan dalam berkontribusi politik setiap pemilihan calon kepala daerah setempat.

Yang pasti, perkembangan Islam di Bali sungguh luar biasa. Semangat jamaah dalam menggelar kegiatan keagamaan di Bali boleh dikatakan cukup menggembirakan. Bisa dicek di sini, seperti di Tabanan, Badung dan wilayah Bali lainnya. Semangat keislamannya begitu Dinamis. Terbukti, kini sudah ada pesantren di Bali.

Bicara soal toleransi beragama, dikatakan H. Bambang dan KH. Mustofa, setiap ketegangan yang terjadi antara umat beragama di Bali, relatif bisa dikendalikan. “Ketika Islam menjadi rahmatan lil’alamin, setiap permasalahan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan, Alhamdulillah dapat diselesaikan secara damai.”

Kejadian di Kepawon
Beberapa waktu lalu, sebelum puasa Ramadhan, di Bali sempat terjadi gesekan kecil. Bahkan isunya sampai ke Jakarta. “Kejadian itu masalah pribadi yang diseret-seret menjadi besar,” kata H. Bambang.  Kejadiannya bermula sejak bulan Mei yang lalu. Berawal dari keributan kecil anak muda di arena ketangkasan Billiard. Dalam keributan itu jatuh korban dari pihak pemuda Hindu, meski tidak sampai tewas. Sebagai bentuk solider dan tidak terima dengan perlakuan itu, pihak korban membawa teman-temannya yang berasal dari organisasi kepemudaan tertentu untuk melakukan serangan balasan. Kebetulan, pemuda muslim yang "mencelakai" korban tinggal di Kepawon, sebuah perkampungan muslim di Bali. Tepatnya di depan masjid.

Saat itu, banyak orang tua tidak tahu akar masalah yang terjadi,  hingga terjadi penyerangan oleh ratusan pemuda Hindu tanpa membawa senjata apapun. Dari serangan itu, dua rumah dirusak, namun tidak merembet kemana-mana.Seperti diketahui, wilayah Kepawon adalah wilayah yang disegani. Ketika terjadi penyerangan pemuda Hindu, masyarakat Muslim yang tinggal di Kepawon tersingung dan membentengi diri.

Alhamdulillah, kasus ini sudah diselesaikan. Ustad Bambang menyebut konflik tersebut sebagai kecelakaan sejarah. Seharusnya tidak perlu terjadi, dan ini tidak ada kaitannya dengan SARA.  “Kejadian sekecil apapun tentu sangat mengganggu stabilitas keamanan dan kenyamanan. Terlebih, Bali mengandalkan sektor parawista. Yang rugi tentu bukan hanya umat Hindu, tapi juga umat Islam dan semua pihak. Kami tak mau kasus seperti ini berlarut, dan jangan pernah terulang kembali,” kata kedua tokoh masyarakat itu.

Bali Kota Maksiat?
Masih ingat, Bali menjadi tuan rumah ajang Miss World? Umat Islam di Jakarta protes keras Bali dijadikan sebagai kota maksiat, terkait diadakannya Miss World?  Apa tanggapan tokoh Islam di Bali? “Yang jelas, sebelum digelar Miss World, Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyatakan ketidaksetujuannya Bali menjadi tuan rumah diadakannya Miss World.

“Protesnya masyarakat Jakarta adalah haknya. Dan sebetulnya, pintu utamanya adalah pemerintah pusat. Tapi kemarin tidak ada peserta yang mengenakan bikini. Bagi umat Islam di Bali, diserukan agar senantiasa menghidupkan kegiatan keagamaan dan tetap menjaga perdamaian. Muslim di Bali punya strategi sendiri dalam berdakwah. Setidaknya, dimulai dari mengelola konflik agar terhindar dari gesekan kedua belah pihak, Hindu dan Muslim.”

Bagaimana dengan makanan halal di Bali? Kabarnya, sulit mencari makanan halal di Bali. Dikatakan, sekarang ini tidak sulit mencari makanan halal di Bali. LPPOM MUI bekerjasama dengan pengusaha berupaya memberi jaminan halal kepada masyarakat muslim di sana.

Hingga saat ini, Tokoh muslim di Bali terus membina kesadaran beragama masyarakat muslim Bali. “Cita-cita kami, Bali bukan hanya menjadi destinasi parawisata dunia, tapi diharapkan menjadi jendela Islam di dunia. Yang kami lakukan adalah terus menjalin silaturahim dengan para pimpinan takmir masjid. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, kami masyarakat Muslim Bali mengumpulkan dana guna memberi santunan bagi korban kerusuhan di Lampung. Kami membantu tanpa memandang bulu, Hindu atau Muslim. Bantuan itu berasal dari kas masjid,” kata H. Bambang, Ketua DMI Provinsi Bali.  [adhes satria]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cita-cita Tokoh Islam Bali: Insya Allah, Bali Menjadi Jendela Islam Dunia"

Post a Comment