Breaking News
Loading...
  • Dunia
  • Nasional
  • Daerah

dunia

Daerah

Dunia

Berita Terbaru

Kamis, 03 April 2014
Gubernur Imbau Pengurus Masjid Urus Administrasi Wakaf

Gubernur Imbau Pengurus Masjid Urus Administrasi Wakaf

BANDUNG - Demi menghindari persoalan hukum pada masa depan, administrasi wakaf atas lahan masjid dan rumah ibadah lain diselesaikan sesegera mungkin.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengutarakan imbauannya itu usai meresmikan penggunaan Masjid Al-Baroqah, Jl. Antariksa, Kota Bandung, Jumat, (28/4).

Ahmad Heryawan menegaskan, sebuah lahan yang di atasnya dibangun masjid secara hukum syariah otomatif berstatus wakaf. Meski demikian, status hukum lahan tetap perlu disertifikatkan untuk menutup kemungkinan perselisihan ke depan.

"Wakaf yang sudah tegas kepada Allah itu perlu diejawantahkan ke dalam administrasi (wakaf). Maksudnya agar jelas siapa yang mewakafkan dan siapa yang menerima," kata Gubernur.

Ditambahkan, pihak dimaksud bisa pribadi atau kelompok maupun lembaga.

Gubernur Ahmad Heryawan juga menegaskan, pengurusan administrasi wakaf dilakukan ke Kantor Urusan Agama setempat. Pengurus masing-masing dewan masjid atau pribadi yang berkaitan dengan rumah ibadah dimaksud dapat mengurusnya.

"Tidak perlu khawatir karena biayanya tidak memberatkan, daripada muncul perselisihan di kemudian hari," tutur Ahmad Heryawan lagi.

Meski perselisihan dimaksud jarang terjadi berbeda dengan wakaf lembaga pendidikan, administrasi masjid perlu diurus. Gubernur menyatakan, jangan sampai mengurusnya setelah ada persoalan.

Menurut data Dewan Masjid Indonesia (DMI), jumlah masjid di Indonesia sekitar 885 ribu. Sembilan belas persen di antaranya berada di Jawa Barat, atau sekitar 126 ribu.

sumber: http://jabarprov.go.id/index.php/news/8574/2014/03/28/Gubernur-Imbau-Pengurus-Masjid-Urus-Administrasi-Wakaf
Sabtu, 08 Maret 2014
Kemenag dan Pemkab Rohul Bahas Draf Ranperda Wakaf

Kemenag dan Pemkab Rohul Bahas Draf Ranperda Wakaf

ROKAN HULU (KEMENAG) Dalam rangka meningkatkan pengelolaan, pemanfaatan, dan pemberdayaan wakaf secara berdayaguna dan berhasil guna, sehingga manfaatnya dirasakan oleh masyarakat, maka Kementerian Agama (Kemenag) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rohul, bahas draf Rancangan Peraturan Daerah (RANPERDA) tentang pengelolaan wakaf, Kamis (6/3/2014) bertempat di kantor Kemenag Rohul.

Hadir dalam pembahasan tersebut Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, Pemkab Rohul diwakili oleh Kabag Hukum Hamdani SH, Ketua MUI Rohul Drs H Hasbi Abduh MA, Ketua BAZNAS Ir H Samrikardo MSi, Kasi Penyelenggara Syari’ah H Martillevi Saleh MSy, Sekretaris BAZNAS H Elfalisman SAg, dan yang lainnya.

Ahmad Supardi menyatakan, bahwa lembaga wakaf adalah pranata keagamaan yang memiliki potensi dan manfaat ekonomi, yang perlu dikelola secara efektif dan efisien untuk kepentingan ibadah dan kesejahteraan umum. Jadi wakaf berdimensi ibadah dan berdimensi social, yaitu kesejahteraan masyarakat, jelasnya.

Selain itu, wakaf adalah merupakan perbuatan hukum yang telah lama hidup dan berkembang serta dilaksanakan oleh umat Islam dalam masyarakat. Hanya saja belum diatur secara lengkap, tertib, dan mendetail. Oleh karenanya, perlu ada aturan yang jelas, sebagai pedoman bagi umat, tandasnya.

Ahmad Supardi lebih lanjut menyatakan, bahwa Rohul memiliki potensi yanbg cukup besar dalam hal wakaf, sebab 80 persen lebih penduduk Rohul ini adalah umat islam. Sebahagian dari mereka adalah kelompok menengah ke atas dari sisi ekonomi. Mereka tentunya hendak memberikan wakafnya, untuk kepentingan umat Islam.

Wakaf itu secara garis besar ada tiga macam, yaitu wakaf harta tidak bergerak, seperti tanah-tanah wakaf, yabng digunakan untuk masjid, kuburan, madrasah, pondok pesantren, dan kegiatan usaha produktif lainnya.

Kemudian harta bergerak selain uang, seperti kenderaan  bermotor, alat penangkap ikan, sampan, binatang ternak, kebun kelapa sawit yang cukup luas di Rohul, hak atas kekayaan intelektual, Alqur’an, buku-buku, dan kitab-kitab lainnya.

Dan yang paling aktual sekarang adalah wakaf atas harta bergerak berupa uang, seperti uang itu sendiri, logam  mulia, surat berharga, hak sewa, dan lain sebagainya.

Ahmad Supardi juga menjelaskan bahwa wakaf ini termasuk potensi umat yang kurang terurus oleh umat islam, padahal madrasah-madrasah, pondok pesantren, masjid, kuburan dan sebagainya, pada umumnya dibangun di atas tanah wakaf.***(Ash)

sumber: http://riau.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=179432
Kementerian Perdagangan Terima Wakaf Alquran

Kementerian Perdagangan Terima Wakaf Alquran

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Corporate Affairs and Communication Asia Pulp & Paper (APP) Suhendra Wiriadinata menyerahkan wakaf Alquran kepada pengurus Mesjid Al-Arief Kementerian Perdagangan RI yang diwakili Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Khrisnamurthi.

Serah terima itu berlangsung usai Salat Jumat, 28 Februari lalu. Program Wakaf Quran secara rutin telah dilaksanakan APP sejak 4 tahun lalu. Total Alquran yang telah dibagikan mencapai sekitar 165 ribu mushaf.

“Terima kasih saya ucapkan kepada APP atas wakaf Alquran ini. Semoga akan membawa kebaikan pada kita semua,” ujar Bayu kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/3). Bayu berharap jemaah Masjid mengkaji dan mengamalkan Alquran dalam kehidupan sehari-hari.  

APP terpanggil mewujudkan komitmen tanggung jawab sosial perusahaan untuk memenuhi kebutuhan akan Alquran yang terjangkau dan berkualitas dengan mewakafkan Alquran yang dicetak diatas kertas QPP.

“Wakaf Al-Quran juga menjadi sebuah tanggung jawab sosial APP, guna membantu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan bagi umat muslim,” ujar Suhendra.

APP yang merupakan salah satu pilar usaha Sinar Mas di bidang pulp dan kertas memiliki produk unggulan yang disebut QPP atau Quran Paper dengan merek Sinartech yang diproduksi di Tangerang Selatan.

Sekitar 90% produksi kertas ini diserap pasar internasional terutama negara-negara Timur Tengah antara lain Mesir, Turki, Suriah, Lebanon. Total produksi Sinartech mencapai 10 ribu ton per tahun dengan nilai penjualan mencapai US$ 10 juta. (*)(Irvan sihombing)

sumber: http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/03/03/215253/kementerian-perdagangan-terima-wakaf-alquran#.Uxs5zr2okmN
Kamis, 06 Maret 2014
Waqaf dan Pembangunan Gedung Perkantoran

Waqaf dan Pembangunan Gedung Perkantoran

Tatkala mengantarkan delegasi pemerintah daerah Kabupaten Lombok Tengah bertemu dengan Direktur Bank Pembangunan Islam - Islamic Development Bank (IDB) regional office di Kuala Lumpur Malaysia ada satu cerita menarik disampaikan Pak Kunrat, orang Indonesia, Direktur IDB yang ruang lingkup tugasnya meliputi tiga negara Malaysia, Indonesia dan Brunei. Pak Kunrat bercerita tentang kisah sukses IDB dalam membantu salah satu kegiatan pembangunan di Bangladesh yang berupa pembangunan salah satu gedung perkantoran di pusat kota. Gedung perkantoran bertingkat tersebut berdiri di lahan tanah waqaf.

Pembangunan gedung megah ditengah kota itu dibiayai oleh IDB dengan tujuan setelah gedung itu selesai dibangun lalu ruang-ruang gedung akan disewakan ke sejumlah perusahaan dengan harga cukup tinggi sebagaimana lazimnya gedung-gedung megah di sejumlah ibukota negara yang disewa perusahaan-perusahaan besar. Karena lokasi gedung perkantoran ini yang demikian strategis, maka dalam waktu singkat ruang-ruang diperkantoran laris disewa perusahaan besar. Alhasil, yayasan waqaf tersebut berhasil mengumpulkan uang cukup besar dan dari uang itu oleh yayasan digunakan untuk melatih pemuda-pemudi Bangladesh yang tidak mampu disekolahkan untuk menjadi tenaga ahli teknologi informasi (IT).

Singkat cerita, banyak tenaga terampil hasil didikan sekolah IT Bangladesh itu berhasil memperoleh pekerjaan dibidang IT, tidak hanya bekerja di dalam negeri bahkan mereka juga ada yang bekerja di lembaga/perusahaan atau institusi di luar negeri. Pendidikan IT yang diselenggarakan di gedung itu juga menjadi terkenal bahkan menjadi pemasok tenaga ahli ke berbagai perusahaan dalam dan luar negeri. Keuntungan konersil pun diperoleh tidak hanya bagi yayasan umat Islam yang memiliki tanah waqaf tetapi juga bagi IDB. Keuntungan bagi IDB menurut Pak Kunrat kemudian dialihkan untuk pembangunan sejenis yang didanai IDB.

Kisah sukses bisnis pembangunan gedung perkantoran berikut kecemerlangan pendidikan keahlian IT di Bangladesh dalam membantu kualitas SDM di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam itu boleh jadi bisa menginspirasi negara-negara lain dalam memanfaatkan peluang-peluang bisnis yang dapat digunakan juga untuk misi sosial seperti pendidikan. Selama ini yang kita ketahui bahwa gedung-gedung perkantoran yang berdiri di lahan tanah strategis dipusat kota kebanyakan milik swasta atau perseorangan, sehingga keuntungan komersil yang diperoleh masuk ke kantong sendiri. Sedangkan jika tanah dan gedung perkantoran milik yayasan umat Islam atau yayasan waqaf, maka tentunya keuntungan atau uang yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam seperti pendidikan yang diceritakan diatas.

Di Indonesia mungkin bisa dipikirkan agar tanah waqaf yang dimiliki yayasan Umat Islam untuk dijadikan perkantoran yang kemudian uang sewanya bisa digunakan untuk pembangunan SDM umat Islam. Selama ini tanah waqaf nyaris identik hanya untuk pendirian rumah ibadah dan sekolah yang kita tahu dalam operasionalisasinya memmerlukan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu jika lokasi tanah waqaf cukup strategis untuk dijadikan perkantoran atau usaha yang memiliki profitabilitas tinggi, maka keuntungan yang diperoleh bisa dipakai untuk mengadakan pendidikan bermutu sebagaimana telah dibuktikan umat Islam di Bangladesh.

Berpikir kreatif inovatif seperti cerita diatas dalam upaya meningkatkan kualitas umat Islam sudah semestinya ditumbuh-kembangkan dikalangan Umat Islam yang terlibat dalam tata kelola harta-harta waqaf, namun demikian azas kehati-hatian tetap dikedepankan. Pengelolaan harta waqaf tidak saja memerlukan kreativitas inovatif yang positif tetapi juga membutuhkan orang-orang berintegritas tinggi. Setiap niat, komitmen dan kemauan yang didasari keikhlasan untuk memajukan umat dan otomatis juga agama Allah, maka in sya Allah, akan ada jalan kemudahan untuk diwujudnyatakan. Bukankah Allah berfirman bahwa Allah akan menolong orang-orang mukmin yang menolong agama Allah (QS Muhammad 47: 7).

sumber: http://imaka-malang.blogspot.com/2014/03/waqaf-dan-pembangunan-gedung-perkantoran.html
Rabu, 05 Maret 2014
USIM Majukan Wakaf Pendidikan

USIM Majukan Wakaf Pendidikan

WAKAF adalah satu institusi sosial yang mapan dalam Islam. Satu amalan yang diinspirasikan daripada al-Quran dan hadis Rasulullah SAW itu merupakan satu instrumen agihan semula kekayaan untuk memberi lebih banyak memberi manfaat kepada orang lain.

Allah SWT sangat menggalakkan agar setiap pemberian yang ingin kita sumbangkan itu adalah harta yang paling kita sayangi sebagaimana maksud ayat dalam Surah Ali Imran: 29: “Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan (al-birr) yang sebenarnya sehingga kamu belanjakan sebahagian daripada harta yang paling kamu sayangi dan apa sahaja yang kamu belanjakan dari sesuatu, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui".

Malah Allah SWT turut menggambarkan gandaan pahala orang yang suka memberi sumbangan kebajikan termasuklah wakaf dalam Surah al-Baqarah ayat 261 bermaksud: “Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah seperti sebutir benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, yang setiap tangkainya terdiri dari seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi yang Ia kehendaki. Allah Maha Luas rahmatNya lagi Maha Mengetahui".

Dalam hadis dari Abu Hurairah RA, bahawa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Jika seseorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang senantiasa mendoakannya.".

Institusi wakaf mempunyai potensi yang besar untuk menyokong pembangunan institusi pengajian tinggi awam dan swasta di Malaysia. Contoh terbaik adalah Universiti Al-Azhar di Mesir, salah sebuah universiti tertua didunia dan tersohor.

Universiti yang dibangunkan berasaskan biaya harta wakaf menyediakan peluang pendidikan secara percuma kepada pelajar Islam dari seluruh pelosok dunia. Ramai para ulama dan cendikiawan Malaysia telah menerima pendidikan mereka dari universiti tersohor ini.

Pembiayaan universiti melalui sumber wakaf sepenuhnya itu membawa beberapa kebaikan, antaranya tidak bergantung sepenuhnya kepada dana kerajaan dan juga memiliki kebebasan dalam pembangunan ilmu dan intelektual.

Di Malaysia, peranan wakaf dalam penyediaan pendidikan telah lama bertapak tetapi lebih tertumpu kepada pendidikan peringkat rendah dan menengah.

Manakala usaha untuk membangunkan dana wakaf telah dilakukan oleh Universiti Putra Malaysia (UPM) melalui Dana Wakaf Ilmu (yang ditubuhkan pada 2011) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pula dengan Tabung Pemberian Islam.

Masing-masing telah mendapatkan persetujuan daripada Majlis Agama Islam Selangor dan baru-baru ini dilaporkan Pemangku Raja Perak, Raja Dr. Nazrin Shah telah mewakafkan 100 ekar tanah untuk kampus Kolej Universiti Islam Sultan Azlan Shah (KUISAS).

Sejajar dengan keperluan amalan berwakaf, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) berpandukan visinya telah mengambil inisiatif untuk mengetengahkan kaedah wakaf dalam aspek pembiayaan pembangunan pendidikan di Institusi Pengajian Tinggi Islam.

Hasrat ini dinyatakan secara jelas oleh Naib Canselor USIM, Prof. Datuk Dr. Asma Ismail dalam amanat tahun barunya pada 6 Februari tahun lalu bahawa dalam aspek penjanaan pendapatan, universiti bukan hanya ingin melihat tetapi juga menggerakkan Pembiayaan Wakaf.

“Tata cara menguruskannya perlu lebih dinamik dan mungkin boleh dikupas oleh pakar di USIM untuk mewujudkan universiti hybrid yang dibiayai 70 peratus oleh Kerajaan dan 30 peratus secara wakaf," katanya.

Idea mewujudkan universiti hybrid yang ingin dilaksanakan USIM itu adalah gabungan konsep enterprise sosial, pematuhan syariah dan pembiayaan wakaf.

Antara fokusnya adalah menyediakan peluang pembiayaan wakaf bagi perolehan peralatan perubatan untuk Hospital Pengajar USIM yang akan dilaksanakan tidak lama lagi.

Tiga konsep utama tersebut direalisasikan berasaskan gabungan antara USIM sebagai sebuah Institusi Pendidikan Tinggi Awam (IPTA) dan perkhidmatan kepada masyarakat setempat (Negeri Sembilan) dan Malaysia secara umumnya.

Sebagai permulaan, Klinik Pakar Kesihatan USIM akan dibina dengan bantuan dana sebanyak RM2 juta daripada Majlis Agama Islam Negeri Sembilan (MAINS) dan memorandum persefahaman kerjasama itu telah ditandatangani pada bulan Januari lalu.

Klinik itu akan menyediakan khidmat dalam bidang kesihatan dan pergigian. Doktor-doktor pakar yang terlibat adalah daripada tenaga akademik Fakulti Perubatan dan Sains Kesihatan dan Fakulti Pergigian USIM.

Selain itu, Klinik Hemodialisis USIM-MAINS dengan kos permulaan RM1.5 juta juga akan dibina tidak lama lagi dengan kos keseluruhannya ditaja MAINS.

Perlaksanaan projek itu akan dilakukan oleh Perbadanan Wakaf Negeri Sembilan sebagai mutawalli sebelum diserahkan kepada USIM untuk tujuan operasi.

Klinik itu berperanan memberikan perkhidmatan percuma kepada golongan asnaf yang terlibat dengan bantuan zakat. Malah jaringan kerjasama itu lebih bermakna lagi apabila USIM dilantik sebagai mutawalli oleh MAINS pada bulan Julai tahun lalu.

Kerjasama itu mampu memberi kesan positif kepada pembangunan ekonomi masyarakat sekitar, negara dan ummah secara global dalam menjamin kelangsungan dan kelestarian ekonomi untuk generasi Muslim pada masa akan datang.

sumber: http://www.utusan.com.my/utusan/Bicara_Agama/20140305/ba_04/USIM-majukan-wakaf-pendidikan
Minggu, 02 Maret 2014
Wakaf Untungkan Umat

Wakaf Untungkan Umat

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ani Nursalikah

JAKARTA — Pengelolaan wakaf mengantarkan umat Islam memiliki banyak fasilitas. Amelia Fauzia dari Divisi Penelitian dan Pengembangan Badan Wakaf Indonesia mengatakan banyak masjid, madrasah, dan fasilitas publik lainnya berasal dari aset wakaf.

Mestinya, kata dia, semakin hari pengelolaan wakaf di negara ini kian maju. Apalagi, potensi wakafnya sangat besar. Dia mengaku meski masih tertinggal namun sekarang muncul kesadaran lebih besar memanfaatkan wakaf dengan lebih baik.

Saat ini, sebaiknya tak sekadar fokus pada wakaf tanah. Wakaf produktif harus mulai dikembangkan secara serius. “Aset wakaf di Indonesia saat ini bernilai lebih dari Rp 1.100 triliun,” kata Amelia, Kamis (27/2).

Pada 2006, tanah wakaf di Indonesia berjumlah 404.676 dengan luas 1.849.771.348 meter persegi dan jumlah sertifikat 304.662. Pada 2010 tanah wakaf di Indonesia berjumlah 415.980 dengan luas 2.171.300.341 meter persegi dan jumlah sertifikat 280.654.

Pada 2012, tanah wakaf di Indonesia berjumlah 420.003 dengan luas 3.492.045.373 meter persegi dan jumlah sertifikat 282.321. Tahun lalu, tanah wakaf di Indonesia berjumlah 428.535 dengan luas 3.993.536.769 meter persegi dan jumlah sertifikat 287.026.

Ketua Majelis Wakaf Muhammadiyah Irsyadul Halim mengatakan persyarikatan telah mengembangkan wakaf produktif. Salah satu bentuknya adalah amal usaha yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, kesehatan, dan dakwah.

Tanah wakaf yang Muhammadiyah miliki tak terbengkalai. Di atas tanah itu, dibangun sekolah, perguruan tinggi, dan rumah sakit. Selain itu, berdiri pula panti asuhan, masjid, dan mushala. “Kami juga mendirikan penginapan,” kata Halim.

Sampai saat ini, tanah wakaf yang dikelola Muhammadiyah jumlahnya sekitar 9.886 bidang dengan luas 2.281 hektare. Menurut Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa (DD) Ahmad Juwaini, selama sepuluh tahun terakhir wakaf produktif digencarkan.

Juwaini mengatakan, sebenarnya lahan makam juga bisa diproduktifkan apalagi sekolah. Dia pernah mengajukan ide membangun apartemen dan pusat perbelanjaan di atas tanah makam. Jadi, pemakaman berada di basement. Di atasnya dibangun apartemen dan mal.

Namun, sampai sekarang belum ada yang mempraktikkannya di Indonesia karena masih muncul pro dan kontra. Padahal, itu salah satu pengembangan wakaf produktif.

Salah satu wakaf produktif milik DD, yakni Sekolah Al Syukro Universal, nilainya empat juta dolar AS. Selain itu, Sekolah Semen Cibinong milik Holcim dengan nilai 3,3 juta AS dan Gedung Warda (Pusdiklat) senilai dua juta dolar AS.
Jumat, 28 Februari 2014
Jika Dikumpulkan, Luas Wakaf Indonesia Seluas Singapura

Jika Dikumpulkan, Luas Wakaf Indonesia Seluas Singapura

JAKARTA-Hal tersebut diungkap Direktur Pemberdayaan Wakaf Kementerian Agama RI Hamka dalam seminar “2nd International Islamic Philantrophy Seminar” yang diselenggarakan lembaga konsultasi pemberdayaan, Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ) dan Dompet Dhuafa  di Hotel Millenium, Jakarta, Kamis, (27/2).

“Wakaf yang ada di Indonesia menurut kalkulasi dari lembaga perwakafan jika dikumpulkan maka luasnya sebanding dengan negara Singapura,” ujarnya.

Hamka menambahkan, lahan wakaf seluas 423.000 hektar di Indonesia adalah wakaf tidur dan tidak produktif. Ia menilai terdapat kemungkinan masalah dari nazir yang kurang wawasan berpikir manajemen wakaf.

Sementara itu, Presiden Direktur Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini yang menjadi salah satu narasumber menuturkan, banyak lahan kosong di Indonesia yang akhirnya digunakan oleh negara-negara maju seperti Cina, Korea, dan Taiwan.

Menurut Ahmad, hal tersebut tidak bisa dibiarkan. Perlu ada perubahan yang dilakukan. Melalui Gerakan Indonesia Berdaya, Ahmad Juwaini mengajak rakyat Indonesia membeli lahan itu sendiri dengan mengumpulkan uang.

“Indonesia Berdaya itu konsepnya adalah kita memanfaatkan lahan-lahan di Indonesia yang tidak produktif berubah menjadi wakaf kemudian untuk dijadikan lahan pertanian dan peternakan untuk membantu para petani sekaligus hasilnya dapat digunakan dan kegiatan sosial,” papar Ahmad.

Perkembangan wakaf produktif sendiri sangat berkaitan dengan berbagai hal. “Sangat terkait besarnya aset wakaf, kapasitas nazir, dan modal sosial seperti pemahaman dan kepercayaan,” ucap Amelia Fauzia dari Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Lebih lanjut Amel mengatakan, potensi besar namun banyak tantangannya bermulai dari pemahaman masyarakat yang masih konvesional, kapasitas mayoritas nazir yang rendah, dan belum banyak model wakaf produktif yang sukses dan aplikasi.

Faktor positif perkembangan wakaf yaitu negara berpenduduk mayoritas muslim, konstitusi sekuler tapi penghormatan terhadap nilai agama tinggi, semangat islamisasi dan modernisasi, karakter wakaf yang independen, dukungan pemerintah, desentralisasi.

Upaya gerakan wakaf produktif bisa dilakukan dengan cara reproduksi ide, khas fikih Indonesia, pengurusutamaan wakaf produktif oleh BWI, Kementerian Agama, dan lembaga filantropi nonpemerintah, studi, penelitian, publikasi, peraturan-peraturan basis wakaf produktif dan proyek percontohan wakaf produktif Direktorat Wakaf Kementerian Agama.

Hingga Jumat (28/2), para peserta seminar international akan mendapatkan materi visitasi Program Filantropi Islam di Indonesia, salah satunya menuju ke Zona Madina. Di sana terdapat RS. Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa dan lembaga pendidikan terpadu Dompet Dhuafa.

Para peserta sebanyak 60 orang dari empat negara yakni Indonesia, Malyasia, Singapura, dan Brunei dibekali pengetahuan tentang pengertian manajemen wakaf serta program wakaf yang berjalan di beberapa negara khususnya Asia Tenggara yang meliputi Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Indonesia. (bani/gie)

sumber: http://www.dompetdhuafa.org/jika-dikumpulkan-luas-wakaf-indonesia-seluas-singapura/
Bank Diminta Dukung Pengembangan Tanah Wakaf

Bank Diminta Dukung Pengembangan Tanah Wakaf

Masjid yang dibangun diatas tanah wakaf.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakaf bisa menyejahterakan dan mengangkat harkat dan martabat umat. Karena itu, menurut Ketua Majelis Wakaf Muhammadiyah Irsyadul Halim, wakaf harus digalakkan dan dikembangkan.

"Di Muhammadiyah wakaf produktif dimanfaatkan sebagai amal usaha yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, kesehatan dan dakwah," ujarnya saat ditemui di bilangan Jakarta Pusat, Kamis (27/2).

Tanah wakaf dibangun sekolah, perguruan tinggi dan rumah sakit. Di bidang dakwah, membangun panti asuhan, masjid dan mushalla. Ada juga tanah wakaf berupa pom bensin, penginapan, pertanian dan perkebunan, tapi jumlahnya tidak banyak.

Mayoritas masyarakat banyak yang mewakafkan tanah. Menurut Irsyadul, ada keyakinan di masyarakat bila berwakaf tanah tidak akan berubah atau hilang.

Dia menuturkan fakta wakaf di Indonesia adalah banyak tanah yang terlantar atau tidak produktif, tanah wakaf tidak sesuai peruntukannya, bermasalah, bersengketa di kemudian hari, UU Wakaf Nomor 41 Tahun 2004 yang mempersempit ruang gerak pengembangan wakaf, keterbatasan pengetahuan dan sumber dana nazir dan nazir (orang yang berwakaf) yang tidak amanah.

Di Muhammadiyah, harta wakaf dikelola sesuai dengan peruntukannya. Sumber dana berasal dari masyarakat, donatur yang tidak mengikat dan swadaya sendiri. Semua dokumen penting disimpan di tempat aman, tahan api, tahan air dan gigitan serangga.

Saat ini tanah wakaf yang dikelola Muhammadiyah jumlahnya sekitar 9.886 bidang dengan luas 2.281 hektare. Irsyad mengatakan harta wakaf bisa dikembangkan bila bersinergi dengan beberapa pihak.

Revisi UU Nomor 41 Tahun 2004 juga diharapkan segera direvisi. Sebab, dalam UU tersebut harta wakaf tidak boleh dijaminkan di bank karena itu bank tidak berani menerima tanah wakaf.

Namun, ia menyarankan bank, terutama bank syariah memberi kemudahan untuk pengembangan harta wakaf dan mendukung penuh pembiayaan. Pemerintah juga diminta menganggarkan biaya pengembangan wakaf.
New Waqf management to boost Muslim development in India

New Waqf management to boost Muslim development in India

The formation of the National Waqf Development Corporation Limited could help Waqf property managers collect more revenue to help poor Muslims in India. [Narinder Nanu/AFP]

Indian Muslims are optimistic the newly formed National Waqf Development Corporation Limited (NAWADCO) will help alleviate Muslim poverty.

"This corporation has been established with an authorised share capital of Rs.500 crore ($80.2m), which will facilitate and mobilise financial resources for setting up of facilities like schools, colleges, and hospitals on Waqf properties for community purposes," Prime Minister Manmohan Singh said during the January 29th inauguration at Vigyan Bhawan.

NAWADCO will function under the Ministry of Minorities Affairs to develop Waqf properties.

It will work with Waqf Boards in each Indian state to run and manage affairs in a proper and transparent manner.

The properties are buildings and land parcels donated by Muslims to help lift fellow Muslims from poverty. Over the years, such properties have been transferred to mosques, madrassas, shrines, graveyards and orphanages both to help those sites support themselves and needy Muslims. Going forward, Waqf Boards can no longer sell, lease, or rent properties without oversight.

"The huge chunk of properties, land and movable assets of Waqf are in miserable condition. I believe the National Waqf Development Corporation Limited will put them in order and restructure them in the larger interest of the community," Jamia Millia Islamia University geography professor Haseena Hashia told Khabar South Asia. "Waqf assets and their revenue are only meant for the betterment of underprivileged Muslims."

Re-organise and modernise

The management of Waqf boards needs to be re-organised and modernised, former Deutsche Bank Managing Director Syed Zafar Islam said.

"I expect that the National Waqf Development Corporation Limited will be able to make proper use of Waqf assets so that it will become a self-reliant financial institution for Muslims," he said.

According to Sachar Committee findings, Waqf properties are capable of generating more than Rs. 120 billion ($1.93 billion) annually. India has 490,000 registered Waqf properties, with the current revenue at about Rs.1.63 billion ($26.2m).

"The Waqf properties and lands are sufficient enough to take care of the problems of the poor Muslims if managed properly," India Islamic Cultural Centre (IICC) Chairman Sirajuddin Qureshi agreed. "The income incurred from these assets should be solely utilised on education and health care, as many Muslims suffer due to a lack of essential services."

Social activist Faizan Haider Naqvi told Khabar NAWADCO should be granted powers to control vacated buildings and use them to generate revenue.

sumber: http://khabarsouthasia.com/en_GB/articles/apwi/articles/features/2014/02/27/feature-01
Wakaf Produktif Perlu Digalakkan

Wakaf Produktif Perlu Digalakkan

Direktur Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini meresmikan peluncuran program warasosial SMART Ekselensia Indonesia di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sudah bukan zamannya lagi wakaf bersifat sosial. Justru wakaf yang paling bermanfaat adalah wakaf produktif.

Wakaf produktif adalah mengubah aset wakaf menjadi aspek usaha yang menguntungkan. Pendapatan dari usaha inilah yang kemudian dapat digunakan untuk kegiatan sosial.

Selama 10 tahun terakhir Dompet Dhuafa  menggalakkan wakaf produktif dan mengurangi wakaf sosial. Sebab, pada wakaf sosial Dompet Dhuafa justru harus membiayai kegiatan operasional wakaf dari masyarakat.

Dana itu diambil dari dana infak. Pada akhirnya dana infak akan habis hanya untuk membiayai operasional wakaf yang tidak produktif.

"Bahkan sampai lahan makam kita masih bisa produktifkan. Apalagi sekolah. Sayang kalau hanya jadi wakaf sosial karena malah membuat wazir (orang yang berwakaf) mengupayakan sumber dana lain untuk membiayai operasional itu," ujar Direktur Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini, saat ditemui dalam acara International Islamic Philantrophy di Jakarta, Kamis (27/2).

Dia bahkan pernah mencetuskan ide membangun apartemen dan pusat perbelanjaan di atas tanah makam. Jadi, pemakaman berada di basement dan di atasnya dibangun apartemen dan mall.

Namun, sampai sekarang belum ada yang mempraktikkannya di Indonesia karena masih pro dan kontra di masyarakat. Menurutnya, itu merupakan salah satu yang bisa dilakukan.

Wakaf produktif yang dikelola Dompet Dhuafa antara lain, Sekolah Al-Syukro Universal dengan nilai aset empat juta dolar AS, Sekolah Semen Cibinong milik Holcim dengan nilai 3,3 juta AS dan Gedung Warda (Pusdiklat) senilai dua juta dolar AS. 
Kamis, 27 Februari 2014
Optimalisasi Zakat dan Wakaf dalam Memberdayakan Masyarakat

Optimalisasi Zakat dan Wakaf dalam Memberdayakan Masyarakat

Ekonomi merupakan salah satu hal yang urgent dalam kehidupan masyarakat. Pada awalnya, para filsuf pra klasik seperti Plato, Aristoteles, Xenophon telah membahas hal perekonomian dengan pemikiran-pemikirannya. Pemikiran ekonomi juga telah dimulai sejak manusia dilahirkan, bahkan Rasulullah SAW sendiri adalah pelaku ekonomi yang berprofesi sebagai pedagang. Selang beberapa tahun, muncullah ekonom-ekonom yang namanya terkenang hingga sekarang. Tujuan dari pemikiran ekonomi tersebut adalah ingin menyejahterakan masyarakat. Para pemikir tersebut tersebar pemikirannya yang membahas tentang ekonomi kapitalis, sosialis, dan tidak sedikit yang membahas tentang ekonomi islam yang mengacu pada Quran dan Hadits.

            Joseph Shumpter adalah ekonom kapitalis yang mengakui tentang pemikiran-pemikiran ekonomi islam yang tela dicetuskan oleh Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiyah dan sebagainya. Beliau juga lah yang menyatakan bahwa Eropa telah mengalami ­Great Gap pemikiran ekonomi yang berusaha ditutup-tutupi oleh barat. Paham kapitalis yang diusung oleh Adam Smith mengemukakan bahwa dalam permintaan dan penawaran pasar ditentukan oleh Market Merchanism, dan dilarangnya intervensi dari pemerintah. Campur pemerintah hanya akan menghambat laju perekonomian. Berbeda dengan kapitalis, Karl Max tokoh penggagas paham sosialis beranggapan bahwa teori kapitalis hanya akan menyudutkan kaum buruh, maka negara harus mempunyai peran penting dalam perekonomian. Jika suatu negara ingin makmur, maka perekonomian dipusatkan di pemerintah, tidak ada yang lebih kaya dan tidak ada yang lebih miskin.

            Dalam implementasinya, kedua sistem ekonomi tersebut tidak dapat menyejahterakan masyarakat. Pada tahun 1930 telah terjadi depresi besar-besaran di dunia. Perdagangan turun 50%, perekonomian lesu, dan inflasi terjadi di berbagai negara. Tidak hanya pada tahun 1930, pada tahun 1997 juga pernah terjadi krisis finansial Asia yang telah melumpuhkan perekonomian Asia, tidak luput dengan Indonesia. Pada tahun 2008, Eropa digempur dengan krisis yang bermula dari Yunani yang tidak mampu membayar hutang luar negerinya. Amerika yang terkana subprime mortgage, krisis KPR yang menyebabkan Lehman Brothers gulung tikar. Bila dicerna, dampak ekonomi ini terjadi berulang kali, hampir beberapa tahun terjadi sekali. Dan tidak ditemukan solusi alternatif dari dampak krisis tersebut.

            Ekonomi Islam dilirik pertama kali di Indonesia ketika Bank Muamalat mampu bertahan dari krisis pada tahun 1998, bahkan cenderung naik di samping melemahnya berbagai lembaga keuangan yang lainnya. Dari peristiwa tersebut, ekonomi islam dianggap mampu menjadi ekonomi alternatif dalam menyejahterakan masyarakat. Padahal, jika ditilik jauh sebelum pemikir ekonomi kapitalis dan sosialis mengemukakan pendapatnya, Islam telah membahas perekonomian tersebut pada tahun 2H, yaitu awal disyariatkannya zakat. Konsep keadilan yang dibawa oleh Islam juga sangat berbeda oleh kapitalis dan sosialis. Adil menurut Islam adalah laa tudzlimuuna wa laa tudzlamuun, tidak dizalimi dan tidak menzalimi. Artinya, dalam kekuatan pasar, seorang pembeli tidak menzalimi penjual dan juga tidak dizalimi oleh penjual, begitu juga sebaliknya.

            Islam adalah agama yang komprehensif dan universal. Komprehensif artinya agama Islam mencakup kegitan ritual dan sosial (ibadah dan muamalah). Sedangkan yang dimaksud dengan universal adalah agama Islam mampu diterapkan di berbagai zaman dan di berbagai waktu. Artinya, kehidupan bermumalah dalam Islam telah diatur sejak diturnkannya Islam sebagai agama yang benar. Ekonomi pun tidak luput dari aturan Islam, semua hal telah diatur dan ditata dalam Islam. Pendapatan dan pengeluaran negara Madinah juga telah ada ketika Rasulullah menjadi kepala negara kala itu. Kebijakan-kebijakan fiskal Rasulullah antara lain adalah diterapkannya zakat, jizyah, fa’i, ‘usyr, nawaib, dan sebagainya. Pengeluaran pada masa Rasulullah juga untuk kepentingan dakwah, pendidikan, sosial, sedangkan Rasulullah hanya menyisakan 80 butir kurma untuk keluarga beliau.

            Untuk itu, dalam perekonomian pun Islam telah mengaturnya. Hal tersebut terimplementasikan dalam instrument zakat dan wakaf yang mampu memberdayakan masyarakat.

Zakat Produktif
Tanpa kita pungkiri, angka kemiskinan di Indonesia terbilang tidak sedikit. Ini mengindekasikan bahwa Negara kita belum mampu untuk mensejahterakan rakyat, padahal Negara mempunyai kewajiban penuh untuk mensejahterakan rakyatnya, hidup tentram, dan aman. Ironis sekali, di Negara kita yang mayoritas menganut agama islam, bila ternyata statistik kemiskinan cukup banyak, padahal Negara dituntut untuk mensejahterakan rakyatnya dengan merata. Statistik kemiskinan Negara kita, akan penulis sajikan sesuai dengan data valid yang diambil dari data Badan Pusat Statistik sebagai berikut:
Tahun
Tingkat Kemiskinan
2010
14,15%
2011
12,49%
2012
11,96%
2013
11,47%
Sumber: Badan Pusat Statistik

Dari data BPS di atas tingkat kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya. Dari 11, 96% pada tahun 2012 kemudian turun menjadi 11, 47% pada tahun 2013. Namun, presentase tersebut masih dinilai besar, karena 28, 07 juta masyarakat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Dari banyaknya angka kemiskinan di Indonesia ini, dibutuhkan adanya solusi jitu untuk mengentaskan angka kemiskinan, salah satunya dengan zakat.

            Dengan potensi yang mencapai angka 3,40 persen dari PDB, atau tidak kurang dari Rp 217 triliun setiap tahunnya, maka keberadaan zakat harus dapat dioptimalkan dalam upaya pengentasan kemiskinan ini. Apalagi secara peruntukkannya, Al-Quran memprioritaskan penyaluran zakat pada delapan kelompok, di mana fakir miskin menjadi kelompok yang mendapat prioritas utama. Maka diharapkan, zakat mampu mengentaskan kemiskinan di Indonesia, sekaligus memperkuat perekonomian kerakyatan.
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. (QS AtTaubah: 103).

            Dalam pendistribusian zakat yang dialokasikan pada delapan golongan  yang telah ditetapkan Al-Qur’an, semaksimal mungkin zakat dapat mensejahterakan para mustahiq. Maka bagi badan Amil zakat dan pihak yang mengelola zakat diharapkan tidak hanya mendistribusikan zakat berupa barang konsumtif yang berbentuk uang atau beras, tapi diharapkan Amil zakat dengan semaksimal mungkin dapat mendistribusikan zakat berupa barang produktif, yaitu permodalan yang diharapkan mampu dimaksimalkan oleh mustahiq. Sehingga kedepannya para penerima zakat tidak menjadi mustahiq lagi, tapi menjadi pemberi zakat. Adanya zakat produktif ini sangat berperan dalam mengentaskan kemiskinan, menumbuhkan perekonomian dan kesejahteraan pada masyarakat.
         
Wakaf Pemberdayaan
Banyak hal yang bisa dimanfaatkan dari wakaf ini, mulai dari pengembangan dan pemberdayaan masyarakat baik dari segi sumber daya manusia maupun perekonomian. Selain akan mendapatkan pahala dari amal jariyah tersebut (private benefit) bagi seorang yang mewakafkan hartanya, juga akan berdampak luas dan besar bagi masyarakat yang menerima wakaf tersebut (sosial benefit). Dan ini adalah peluang yang sangat besar untuk menyejahterakan umat.

            Bukti wakaf dapat menyejahterakan umat adalah dengan pembangunan perumahan sederhana untuk mustadh’afin dengan dana wakaf, seperti yang terjadi di Turki, Mesir, al-Jazair, dan Malaysia. Nadzir wakaf yang kebanyakan sudah berbentuk yayasan dan badan hukum membangun rumah untuk mustadh’afin di atas tanah wakaf dengan dana wakaf. Seperti layaknya harta wakaf para penghuni hanya memiliki hak pakai atau hak sewa. Dengan adanya perumahan wakaf ini para mustadh’afin mendapatkan kesempatan menyewa dengan harga yang terjangkau untuk jangka waktu yang lama. Jangka waktu yang lama ini sangat penting guna memastikan keamanan dan ketenangan –tanpa takut diusir- bagi anak cucu dan keluarga yang bersangkutan. Berapa banyak para mustad’afin yang membangun rumah gubuk mereka di tanah pemerintah, dan akhirnya pun terjadinya penggusuran oleh pemerintah, sehingga keamanan dan kenyamanan mereka pun terganggu.

            Potensi wakaf di Indonesia sangat besar, dan hal itu bisa kita alokasikan dengan membangun RSS (rumah sangat sederhana) dan rumah sederhana tipe 21 sampai 36 yang diperuntukkan bagi para mustadh’afin. Mereka tetap harus membayar, namun sesuai dengan kemampuannya.

            Kewajiban membayar ini diperlukan, di samping dananya bisa digulirkan untuk orang lain, juga untuk kedisiplinan dan memberi rasa bangga pada merka bahwa rumah itu merupakan hasil keringat mereka sendiri. Secara psikologis, Insya Allah, perasaan itu akan memacu semangat kerja mereka untuk mencari nafkah guna membayar cicilan.

Kesimpulan

            Agama Islam merupakan agama yang komprehensif dan universal, di mana agama Islam ini mecakup segala bidang kehidupan ibadah dan sosial, serta diterapkan di berbagai zaman. Dan salah satu bidang yang mampu dimaksimalkan adalah bidang ekonomi untuk diterapkannya nilai-nilai Islam. Jika dilihat dari bergbagai aspek, ekonomi Islam memiliki keunggulan daripada system ekonomi yang lainnya. Dari dampak krisis yang terjadi di dunia menandakan bahwa ekonomi kapitalis tidak mampu memberikan dampak kesejahteraan.

            Dalam ekonomi Islam, zakat merupakan salah satu instrumen yang mampu mensejahterakan masyarakat. hal ini ditandai dengan pendistribusian zakat kepada para mustahik yang sebagian besarnya adalah kaum fakir dan miskin. Dengan adanya potensi zakat yang sebegitu besar, maka kemiskinan di Indonesia akan dapat diatasi dengan cepat.

            Instrumen lain dalam Islam yang mampu mensejahterakan masyarakat adalah wakaf. Hal ini sangat berbeda dengan konsep filantropi pada umumnya. Dana wakaf adalah dana yang bersifat abadi, artinya dana ini tidak dapat dinikmati oleh individual, namun dapat dinikmati umat secara keseluruhan. Untuk memaksimalkan dana ini, diperlukan nazir yang amanah dan professional, agar mampu mengembangkan dana wakaf untuk kepentingan umat. Jika dana zakat dan wakaf mampu dimaksimalkan dengan baik, maka kesejahteraan di Indonesia akan segera terwujud.

sumber: http://d-jabbars.blogspot.com/2014/02/optimalisasi-zakat-dan-wakaf-dalam.html
Kamis, 20 Februari 2014
Dihadiri 12 Anggota, Sidang Badan Wakaf ke-71 Tetap Berjalan Sesuai Jadwal

Dihadiri 12 Anggota, Sidang Badan Wakaf ke-71 Tetap Berjalan Sesuai Jadwal

GONTOR–Meski tidak dihadiri tiga orang anggotanya, Sidang Badan Wakaf ke-71 yang telah direncanakan pada Jumat-Sabtu (14-15/2/2014) di hall Wisma Darussalam Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Ketiga orang anggota yang tidak hadir tersebut adalah Dr. K.H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A., karena kesibukan di Arab Saudi, serta Prof. Dr. K.H. Dien Syamsuddin dan K.H. Abdullah Said Baharmus, Lc. yang mengalami pembatalan penerbangan akibat dampak dari erupsi Gunung Kelud.

Meski demikian, sidang tersebut tetap dilaksanakan dengan khidmat. Kegiatan tersebut diawali dengan sidang sesi I pada Jumat (14/2) malam, kemudian inspeksi beberapa pembangunan di kawasan Gontor Pusat dan Ponorogo pada Sabtu (15/2) pagi.

Usai inspeksi, kegiatan dilanjutkan dengan sidang sesi II guna mengambil beberapa keputusan penting menyangkut masa depan PMDG dan ISID. (binhadjid)

sumber: http://www.gontor.ac.id/berita/dihadiri-12-anggota-sidang-badan-wakaf-ke-71-tetap-berjalan-sesuai-jadwal
Copyright © 2014 Berita Update Seputar Wakaf All Right Reserved
Mari kembangkan Wakaf Produktif untuk kesejahteraan ekonomi ummat sekarang dan dimasa yang akan datang.